Properti Asia-Pasifik 2026: Saatnya Pintar Pilih Strategi

星期二, 30 十二月 2025

Memasuki tahun 2026, pasar properti Asia-Pasifik tidak lagi bicara soal tumbuh atau tidak, tapi lebih ke arah bagaimana bisnis properti bisa tetap relevan di tengah dunia yang terus berubah. Meskipun isu tarif baru dan tensi geopolitik membayangi, kawasan ini diprediksi masih sanggup tumbuh di angka 4,1%. 

Angka tersebut memang sedikit melandai dibanding tahun sebelumnya, namun tetap menunjukkan bahwa peluang masih sangat terbuka lebar asalkan kita bergerak dengan perhitungan matang, bukan sekadar agresif.

Dinamika pasar di kawasan ini sebenarnya digerakkan oleh dua kekuatan utama yang saling melengkapi. Di negara-negara dengan populasi besar seperti Indonesia dan Filipina sangat mengandalkan kekuatan konsumsi domestik; daya beli masyarakat lokal terbukti menjadi bantalan yang kuat bagi stabilitas ekonomi nasional.

Sementara itu, di negara-negara lain seperti Singapura, Korea Selatan, dan Taiwan justru sedang memanen keuntungan besar dari adopsi teknologi tinggi dan kecerdasan buatan (AI). Tren ini bukan sekadar gaya hidup, melainkan kebutuhan industri, di mana lonjakan belanja AI yang diprediksi meningkat sepuluh kali lipat hingga tahun 2028 akan memicu permintaan masif terhadap infrastruktur pendukung, mulai dari pusat data hingga kawasan logistik yang lebih pintar.

Sepanjang tahun 2025, pasar perkantoran terbukti cukup tangguh. Meski ada tambahan 10 juta meter persegi ruang baru, rerata tingkat kekosongan masih relatif aman di bawah 15%. Tren saat ini bukan lagi sekedar mencari gedung, tapi mencari ekosistem kerja.

Perusahaan kini mengincar kantor yang hemat energi, ramah karyawan, dan berlokasi strategis. Dengan proyeksi kenaikan sewa yang relatif rendah yaitu di bawah 2% pada 2026, sekarang adalah waktu yang pas bagi perusahaan untuk pindah ke gedung berkualitas lebih baik tanpa harus terbebani biaya sewa yang selangit.

Sementara itu, sektor logistik mulai bergeser dari fase ekspansi besar-besaran ke fase pemilihan lokasi yang lebih selektif. Di India dan Asia Tenggara, aktivitas masih sangat kencang berkat e-commerce dan penataan ulang rantai pasok global. Fokusnya sekarang bukan lagi soal seberapa banyak gudang yang dimiliki, tapi seberapa cepat gudang tersebut bisa mendistribusikan barang.

Di tengah kondisi yang kompleks ini, insting saja tidak cukup. Keputusan properti baik untuk hunian, industri, maupun manajemen aset butuh dukungan data yang tajam. Laporan Asia-Pacific Outlook 2026 dari Knight Frank hadir sebagai panduan yang dapat membantu Anda menemukan peluang yang terbuka, sejalan dengan arah ekonomi ke depan.

 

Penulis : Arief Fadhillah

Sumber : 
https://kfmap.asia/research/asia-pacific-outlook-2026/4546

返回博客
©INFRAMAP - KNIGHTFRANK 2026