Pengembangan Kota Berkelanjutan dengan Konsep Water Sensitive Urban Design

星期五, 21 八月 2026

Sebesar 71% dari permukaan Bumi tertutup oleh wilayah perairan. Hal ini menjadikan air sebagai sumber daya yang dinilai vital, terutama pada kawasan perkotaan. Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI), kebutuhan air bersih per orang setiap harinya berkisar antara 60–150 liter untuk kebutuhan domestik. 

Di sisi lain, fenomena perubahan iklim yang bertambah parah setiap tahunnya berisiko terhadap terjadinya bencana kekeringan yang dapat menekan suplai air bersih. Oleh karena itu, pengelolaan air limbah, banjir, hujan, dan limpasan permukaan harus didasarkan pada solusi terpadu yang mempertimbangkan berbagai kegunaan serta nilai dari air tersebut.

Konsep water sensitive urban design (WSUD) merupakan teori perancangan kawasan perkotaan yang mengintegrasikan pengelolaan siklus air dengan lingkungan hijau dan bangunan melalui perencanaan dan desain perkotaan. Konsep ini dilakukan dengan mengelola dan menjaga kualitas sumber daya air di perkotaan supaya dapat meminimalkan degradasi lingkungan dan tetap mendesain estetika kawasan dengan menciptakan ekonomi sirkular dalam penggunaan air perkotaan.

Berdasarkan dokumen Urban Stormwater Best Practice Environmental Management Guidelines (BPEM Guidelines), prinsip - prinsip utama dalam penerapan WSUD adalah:

  • Melindungi dan meningkatkan sistem air alami dalam lingkungan perkotaan
  • Mengintegrasikan sistem pengolahan air hujan ke dalam lanskap untuk memaksimalkan fungsi estetika dan kenyamanan.
  • Meningkatkan kualitas limpasan air yang mengalir ke perairan penerima.
  • Mengurangi puncak dan volume limpasan melalui retensi terdistribusi dan meminimalkan area kedap air (aspal atau beton)
  • Meminimalkan biaya infrastruktur drainase dengan cara menurunkan laju dan volume limpasan air hujan.

Penerapan konsep WSUD dapat dilakukan dalam berbagai skala, mulai dari bangunan tunggal, sampai dengan wilayah perkotaan secara keseluruhan. Konsep ini juga telah diadaptasi oleh berbagai wilayah di seluruh penjuru dunia, seperti di Kota Warrnambool, Australia, dan Augustenborg Eco-City project, Swedia.

Berdasarkan studi kasus penerapan konsep WSUD di berbagai wilayah, dampak yang dirasakan antara lain adalah berkurangnya risiko banjir saat hujan lebat, peningkatan kualitas air, pendinginan suhu perkotaan, dan peningkatan kelayakan huni dan fungsionalitas perkotaan secara umum. Akan tetapi, konsep ini masih terhitung baru dalam ranah lanskap perkotaan, sehingga masih terdapat hambatan dalam penerapan konsep ini, seperti keterbatasan regulasi, kemampuan fiskal wilayah, dan kesadaran pemangku kebijakan terhadap urgensi penerapan konsep ini. 

 

Penulis: Pangripta Rahma

Sumber:

https://climate-adapt.eea.europa.eu/ 

https://waterbydesign.com.au/ 

https://citygreen.com/ 

https://urbandesignlab.in/ 

返回博客
©INFRAMAP - KNIGHTFRANK 2026