Iklim transportasi publik di Jakarta kian hari semakin membaik. Beragam pilihan transportasi massal, mulai dari TransJakarta BRT, MRT, LRT Jabodebek, LRT Jakarta, hingga KRL, menunjukkan semakin majunya sistem pendukung mobilitas publik di kota bertaraf global. Di antara moda tersebut, jaringan terbesar dipegang oleh Transjakarta BRT yang kini telah memiliki 14 koridor utama dan lebih dari 250 halte BRT.
Transjakarta juga memiliki layanan Non-BRT yang ditandai dengan kehadiran Metrotrans, minitrans, dan royaltrans. Berbeda dengan layanan BRT, titik pemberhentian pada layanan ini umumnya berada di tepi jalan dan ditandai dengan bus stop. Beberapa di antaranya juga dilengkapi halte kecil yang menyediakan tempat duduk serta penadah hujan. Layanan ini dapat menjangkau area yang tidak dapat dijangkau oleh Halte BRT tetapi tetap dalam lebar jalan yang mumpuni untuk operasional bus kecil.
Lalu, bagaimana dengan seluk-beluk Jakarta yang memiliki lebar jalan yang hanya cukup untuk mobil dan motor saja?
Jawabannya adalah Mikrotrans.
Mikrotrans merupakan layanan transportasi umum yang berbentuk mobil dengan kapasitas hingga 11 penumpang. Pada awalnya, angkot di Jakarta beroperasi secara mandiri yang dikelola oleh sistem koperasi. Pada tahun 2018, angkot mulai diintegrasikan dalam suatu sistem yang bernama Jaklingko yang berfokus pada peningkatan kualitas layanan penumpses keseluruhan kota Jakarta.
Transportasi ini cocok untuk perjalanan singkat dan perjalanan di jalan lingkungan atau lokal seperti perjalanan dari rumah ke pasar, pusang seperti layanan gratis dengan Kartu Uang Elektronik (KUE), perjalanan tanpa ngetem, dan bus stop yang teratur. Hingga saat ini, mikrotrans memiliki 120 rute pilihan untuk mengakkesmas, SD, serta SMP. Selain itu, mikrotrans juga berperan sebagai transportasi pengumpan (feeder) seperti Transjakarta Non-BRT yang menghubungkan antara titik awal dan tujuan akhir dengan titik transit transportasi massal.
Dalam gambaran besar, Mikrotrans berperan sebagai pelengkap jangkauan transportasi umum di Jakarta. Kehadirannya meningkatkan keterjangkauan transportasi publik hingga sekitar 85% dari sebelumnya hanya 37,5% yang terlayani oleh transportasi massal. Selain itu, penelitian dari Stanford University menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia termasuk yang paling jarang berjalan kaki, sehingga layanan yang mampu menjangkau hingga tujuan akhir menjadi semakin penting bagi mobilitas warga Jakarta.
Meski begitu, mikrotrans masih memiliki beberapa tantangan, misalnya pramudi yang bersikap kurang baik dalam mengendarai angkot dan berinteraksi dengan penumpang, hingga pramudi yang membawa keluarganya di armada. Distribusi armada juga belum merata, yang ditandai dengan armada di wilayah pinggiran kota tidak mengalami perubahan, sedangkan armada di pusat kota sudah berganti dengan armada yang ber-AC, pintu otomatis, serta mobil listrik.
Pada akhirnya, transportasi umum yang memadai akan selalu menjadi kebutuhan masyarakat di Indonesia, tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di kota-kota lain. Kehadirannya dapat mendorong peralihan mobilitas dari kendaraan pribadi ke transportasi publik. Jika transportasi massal sulit diterapkan, layanan seperti angkot atau Mikrotrans dapat menjadi alternatif, selama ketersediaannya diselaraskan dengan kualitas layanan.
Penulis: Jovan Rafkhansa
Sumber :
https://kfmap.asia/blog/aksesibilitas-properti-di-hinterland-jakarta-kebutuhan-transportasi-pengumpan/4436
https://megapolitan.kompas.com/
https://news.detik.com/
https://itdp-indonesia.org/
https://smartcity.jakarta.go.id/
https://transjakarta.co.id/
https://www.thejakartapost.com/
https://www.idos-research.de/