Tahun 2026 diperkirakan akan menjadi tahun yang akan memberikan pertumbuhan positif untuk sektor properti, hal ini antara lain didorong oleh kebijakan pemerintah yang mengarah pada penguatan daya beli masyarakat.
Pada sektor residensial, khususnya hunian vertikal, performa pada tahun 2025 ditandai dengan permintaan bersih pada kisaran 2.000-an unit. Angka ini relatif rendah dibandingkan masa kejayaan properti residensial beberapa tahun lalu. Memang bukan hal yang mudah untuk kembali ke masa kejayaan seperti di periode tahun 2013-2017, ketika permintaan bersih per semester berada di kisaran 10.000 hingga 14.000 unit.
Sedangkan pada sektor apartemen sewa, saat ini tingkat rerata hunian berada di kisaran 66% hingga 68%, cukup jauh jika dibandingkan dengan periode tahun 2011-2013, yang menjadi masa kejayaan properti, yang ditandai dengan rerata tingkat hunian pada kisaran 85% hingga 86%.
Sementara itu, pada sektor properti komersial, perkantoran dapat dijadikan salah satu ukuran performa dari eksistensi berbagai subsektor properti komersial. Dalam 3 tahun terakhir, rerata tingkat hunian perkantoran berada di kisaran 76%. Merujuk pada periode tahun 2013-2014, sektor perkantoran mampu tumbuh dan memiliki masa jaya dengan rerata tingkat hunian mencapai 96% hingga 97%.
Secara historis, periode tahun 2011-2013 telah membawa sektor properti pada masa kejayaan, mampu melewati berbagai tantangan dan memberikan implikasi positif terhadap berbagai sektor turunannya.
Sebagai catatan bahwa, pada periode tersebut, pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 5,8% hingga 6,5%.
Selain itu, perlu diperhatikan bahwa pada masa tersebut pertumbuhan sektor properti ditopang oleh kombinasi faktor makroekonomi dan struktural yang kondusif. Makroekonomi yang menopang saat itu ditunjukan melalui pertumbuhan ekonomi yang solid, penurunan tingkat suku bunga, dan kredit yang longgar.
Kondisi di atas berada pada struktural ekonomi masyarakat yang mendukung, diantaranya kelas menengah yang mulai ekspansi dengan daya beli yang terus tumbuh, laju urbanisasi yang tinggi, backlog hunian yang terus bertambah, keterbatasan stok di kawasan perkotaan, ditunjang pengeluaran rumah tangga yang menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi. Tidak bisa dipungkiri, saat itu pertumbuhan properti juga didukung oleh pulihnya kondisi pasar dari krisis finansial global di tahun 2009.
Seperti sebuah siklus, setelah masa sunset, atau titik terendah maka pertumbuhan umumnya akan pulih, dengan catatan seluruh instrumen yang terlibat dalam pergerakan pertumbuhan memainkan peran dengan optimal untuk mencapai pemulihan yang menyeluruh.
Pada akhirnya kedua kombinasi antara makroekonomi dan struktural ini menciptakan iklim investasi yang kondusif. Terbukti pada tahun 2012, realisasi investasi tercatat melebihi target, dan merupakan catatan yang terbaik sepanjang catatan investasi di Indonesia. Berujung pada daya ungkit yang signifikan terhadap pertumbuhan properti.
Penulis : Syarifah Syaukat
Sumber :
https://entertainment.kompas.com/
https://nasional.kompas.com/
https://www.neraca.co.id/