Kredit Perbankan Naik, Harga Properti Residensial Tetap Stabil

星期二, 30 十二月 2025

Bank Indonesia mencatat penyaluran kredit perbankan terus tumbuh hingga November 2025 dengan nilai mencapai Rp 8.196,4 triliun. Secara tahunan (YoY), kredit perbankan tumbuh 7,9%, meningkat dibandingkan Oktober 2025 yang sebesar 7%. Perkembangan ini mencerminkan peran intermediasi perbankan yang semakin menguat, seiring dengan aktivitas ekonomi yang terus bergerak dan kebutuhan pembiayaan yang tetap tinggi di berbagai sektor.

Pertumbuhan kredit perbankan tersebut juga tercermin pada kinerja sektor properti. Bank Indonesia mencatat kredit properti tumbuh 7,4% YoY pada November 2025, lebih tinggi dibandingkan Oktober 2025 yang hanya tumbuh 5% YoY. Secara nominal, total kredit properti telah mencapai Rp 1.513,5 triliun. Capaian ini menunjukkan semakin besarnya aliran pembiayaan yang disalurkan ke sektor perumahan dan real estat, sejalan dengan minat masyarakat terhadap kepemilikan hunian.

Dari sisi jenis pembiayaan, peningkatan kredit properti terutama ditopang oleh Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA). Pada November 2025, KPR dan KPA tumbuh 6,9% YoY dengan nilai mencapai Rp 834,7 triliun. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan Oktober 2025 yang tercatat sebesar Rp 830,9 triliun atau tumbuh 6,8% YoY. Tren ini mengindikasikan bahwa permintaan hunian masih terjaga, khususnya di kawasan perkotaan dan wilayah penyangga kota besar, meskipun dihadapkan pada dinamika dan tantangan ekonomi global.

Di tengah meningkatnya penyaluran kredit, pergerakan harga properti residensial cenderung stabil. Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) dari Bank Indonesia menunjukkan bahwa harga properti residensial di pasar primer pada triwulan III 2025 mengalami pertumbuhan yang moderat. Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) tercatat tumbuh 0,84% YoY, sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan II 2025 yang tumbuh 0,90% YoY. Kondisi ini mencerminkan keseimbangan antara permintaan dan pasokan di pasar properti.

Peningkatan kredit mendorong transaksi pembelian rumah dan apartemen, sementara dari sisi penawaran, pengembang cenderung menjaga agar pertumbuhan harga tetap sejalan dengan daya beli masyarakat. Stabilnya harga di tengah ekspansi kredit juga menunjukkan kondisi risiko yang relatif terjaga. Perbankan tetap menyalurkan pembiayaan secara ekspansif namun terukur, sementara pasokan properti di pasar primer dapat mengimbangi permintaan.

Secara keseluruhan, akselerasi kredit perbankan mencapai Rp 8.196,4 triliun, disertai pertumbuhan kredit properti dan pergerakan harga residensial yang relatif stabil, menunjukkan sektor properti berada dalam fase pemulihan. Kondisi ini membuka ruang bagi sektor properti untuk terus berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus mendukung stabilitas sistem keuangan dalam jangka panjang.

 

Penulis: Farah Septiawardahni

Sumber:

https://kfmap.asia/blog/kredit-properti-komersial-vs-kredit-properti-residensial-mana-yang-lebih-tangguh-tahun-ini/4113 

https://kfmap.asia/blog/peran-kredit-properti-dalam-pertumbuhan-pasar-properti-indonesia/3122

https://nasional.kontan.co.id/

https://ekonomi.bisnis.com/

返回博客
©INFRAMAP - KNIGHTFRANK 2026