Dinamika Awal Tahun 2026 : Saham Sektor Properti dan Prospeknya

星期五, 23 一月 2026

Tahun ini diawali dengan pergerakan saham sektor properti yang menunjukkan sinyal beragam. Sebagian saham tercatat menguat, sementara lainnya masih mengalami pelemahan. Berbagai kebijakan pemerintah sebagai regulator turut membuka peluang yang memperkuat kinerja saham properti. Meski demikian, sektor ini masih dihadapkan sejumlah tantangan yang berpotensi menahan laju kinerjanya.

Pada minggu kedua awal tahun, indeks properti mengalami penguatan sebesar 6,82%, melampaui IHSG (2,75%). Secara harian, saham properti masih berada di zona positif (+0,49%) dan IHSG mengalami penurunan sebesar 0,58%.

Sebagai gambaran, saham properti PT Agung Podomoro Land (APLN), PT Sentul City Tbk (BKSL), dan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) mengalami penguatan dalam pergerakan harian yang positif sebesar 21,68%, 11,56%, dan 10,23%. Saham properti lainnya seperti LPKR, CTRA, BSDE, CBDK, dan SMRA terkategori stabil dari -1% hingga 3%. Sedangkan saham PANI dan KIJA melemah di -5% hingga -6%.

Melihat pergerakan mingguan, bulanan, dan tahunan, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) dan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) masih bergerak negatif. Sedangkan saham lainnya memiliki pergerakan yang positif.

Beberapa kebijakan pemerintah dinilai memberikan dukungan terhadap prospek positif saham sektor properti, antara lain:

  • Perpanjangan PPN DTP hingga 2027
    PPN DTP yang diperpanjang dari desember 2026 menjadi desember 2027 diharapkan mampu menjaga minat beli properti, terutama segmen menengah hingga kelas atas. Kebijakan ini diumumkan oleh Menteri Keuangan sejak Oktober tahun lalu.

  • Subsidi bunga KUR perumahan hingga 5%
    Pengembang dan kontraktor kelas mikro atau UMKM akan mendapatkan keringanan dari pembangunan produknya. Dengan besaran bunga pinjaman dari bank sebesar 11-13%, pengembang hanya perlu menanggung 6-8%. Kebijakan ini telah berlaku sejak September tahun lalu.

  • Potensi penurunan suku bunga KPR
    Pada September lalu, bunga acuan Bank Indonesia (BI) mengalami penurunan sampai 4,75%. Meski belum berdampak langsung terhadap penurunan bunga KPR, stabilitas BI rate di level tersebut membuka peluang penyesuaian bunga KPR ke depan, sehingga diharapkan dapat menjaga momentum transaksi hunian.
     

Di balik peluang yang ada, terdapat juga tantangan yang dapat mempengaruhi kinerja saham properti seperti daya beli masyarakat yang masih terkoreksi hingga saat ini. Kemudian diikuti juga dengan kenaikan harga material bangunan yang berpotensi menghambat pengembangan properti. Konflik agraria yang tak kunjung usai, terutama dalam sektor real estate, juga menjadi tantangan yang harus segera diselesaikan. Birokasi dan perizinan harus lebih dipermudah untuk menjaga stabilitas investasi sektor properti. 

Dari sisi kinerja keuangan, laba emiten properti sepanjang sembilan bulan pertama 2025 menunjukkan hasil yang tidak merata. Sejumlah emiten seperti PWON dan CTRA masih mencatatkan kinerja yang relatif stabil, sementara CBDK dan PANI berhasil membukukan pertumbuhan laba yang cukup tinggi. BKSL mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, sedangkan tekanan kinerja masih dirasakan oleh pengembang township besar seperti BSDE, SMRA, dan terutama LPKR.

Dari sisi valuasi, sebagian besar saham properti masih tergolong murah karena diperdagangkan di bawah rata-rata historisnya. Namun ke depan, hanya emiten dengan kinerja laba yang sehat dan berkelanjutan yang berpeluang mengalami kenaikan valuasi.

 

 

Penulis : Jovan Rafkhansa

Sumber :

https://kfmap.asia/blog/kinerja-emiten-properti-pada-kuartal-iii-2025/4457

https://www.msn.com/

https://www.detik.com/

https://keuangan.kontan.co.id/

https://www.cnbcindonesia.com/

返回博客
©INFRAMAP - KNIGHTFRANK 2026