Transformasi Kawasan Industri menjadi Smart-Eco Industrial Park Menuju Industri 4.0

星期五, 13 三月 2026

Serapan lahan kawasan industri menunjukkan tren positif pada tahun 2025 dan diperkirakan akan terus meningkat pada tahun 2026. Knight Frank Indonesia dalam Press Conference Jakarta Property Highlights 2H 2025 mencatat bahwa serapan lahan pada tahun 2025 mencapai 192 hektar, dengan sektor yang potensial mengakuisisi lahan adalah kendaraan listrik (EV-related) dan manufaktur. Performa ini perlu diimbangi dengan aktivitas industri yang mampu menciptakan keseimbangan antara aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial.

Untuk pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan, kawasan industri harus memanfaatkan sumber daya dengan efisien, melakukan pengolahan limbah dengan baik, dan meminimalisir polusi. Sementara itu, dalam POV ekonomi, kawasan industri harus mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan produktivitas industri seperti penerapan teknologi digital dan penyediaan infrastruktur yang efisien. Sedangkan POV sosial, kawasan industri akan membuka lapangan kerja baru dan kesempatan untuk membangun fasilitas umum atau sosial. 

Pada tahun 2020, Indonesia melalui presidensi G20 menyatakan siap untuk mengedepankan konsep tersebut yang disebut juga dengan konsep Eco Industrial Park (EIP). Kesiapannya ditandai dengan hasil kerja sama antara Kemenperin, UNIDO, dan SECO untuk membentuk Global Eco Industrial Park Programme (GEIPP) di Indonesia. 

Saat ini, GEIPP-Indonesia tengah mempersiapkan fase 2 dalam programnya usai kesuksesan di fase 1 pada tahun 2020–2023. Sebanyak tiga (3) kawasan industri telah mengadopsi konsep EIP dengan total 35 tenant yang ikut hadir menyukseskan program tersebut, antara lain, MM2100, Batamindo, dan KICC. 

Hasilnya meliputi penurunan emisi GRK menjadi 12.642 ton CO2 eq/tahun, investasi dengan nilai Rp3,2 miliar, penghematan listrik dengan membangkitkan energi, serta penghematan air hingga 119.902 m3/tahun. Dalam fase kedua, fokus pengembangan akan bertransformasi dari Eco Industrial Park menjadi Smart-Eco Industrial Park (Smart-EIP) guna mendukung Industri 4.0

Secara konseptual, keduanya sama-sama mengedepankan hubungan yang selaras antara ekonomi, lingkungan hidup, dan sosial. Namun, Smart-Eco Industrial Park lebih berfokus dalam digitalisasi dengan  teknologi tinggi seperti:

  • Integrasi infrastruktur berbasis teknologi digital
  • Sistem logistik yang terhubung dan terintegrasi
  • Pengembangan pusat digital dan ekosistem inovasi
  • Penerapan konsep ekonomi sirkular untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya
  • Pemanfaatan Internet of Things (IoT), cloud computing, dan data centre
  • Pemusatan telekomunikasi dengan high speed broadband
  • Pemanfaatan energi terbarukan

Pada fase kedua, GEIPP-Indonesia telah menambahkan dua kawasan industri, yaitu Kawasan Industri Delta Mas dan Kawasan Industri Medan, yang menjadi fokus dalam transformasi menuju konsep Smart-EIP. Selain itu, terdapat juga pengembangan baru kawasan industri di Lamongan yang akan mengaplikasikan konsep tersebut sejak awal penjajakan.

Pada akhirnya, transformasi menuju Smart-Eco Industrial Park perlu diaplikasikan di Indonesia karena kawasan industri konvensional semakin menghadapi berbagai tantangan dari berbagai sisi, terutama dari sisi lingkungan hidup. Perubahannya juga bertujuan untuk memastikan bahwa kawasan industri tetap kompetitif, berkelanjutan dan relevan dengan perkembangan teknologi serta standar industri modern.

 

Penulis : Jovan Rafkhansa

Sumber : 

https://kfmap.asia/blog/kawasan-industri-indonesia-bergerak-menuju-industri-40/2261

https://verdam.co.id/

https://www.smartcityindo.com/

https://mediaindonesia.com/

https://www.kompas.com/

https://www.geippindonesia.org/

https://kpaii.kemenperin.go.id/

返回博客
©INFRAMAP - KNIGHTFRANK 2026