Persepsi Budaya: Faktor Non-Harga dalam Pasar Hunian

星期五, 23 一月 2026

Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap tata ruang dan desain hunian kembali meningkat, terutama di segmen rumah tapak dan apartemen kelas menengah atas di kota-kota besar. Bagi banyak calon pembeli, tata letak ruang, arah bangunan, hingga posisi pintu dan kamar tidur bukan sekadar estetika, tetapi dianggap mempengaruhi energi, kenyamanan, bahkan rezeki penghuni.

Berbagai media populer menyoroti tren ini lewat tips praktis, mulai dari menyingkirkan barang yang tidak terpakai, mengatur sirkulasi udara, hingga menata kamar tidur agar terasa lebih nyaman dan menenangkan. Di sisi lain, dalam konteks budaya tertentu, seperti fengshui yang dikemukakan ahlinya menekankan pentingnya rumah yang rapi, bersih, dan fungsional sebagai dasar sebelum berbicara soal energi baik. Dalam praktiknya, banyak pendekatan tersebut sejalan dengan desain interior modern, seperti ruang yang lebih lega, tata letak yang efisien, serta perabot yang tidak menghambat sirkulasi.

Dari perspektif pasar, fengshui juga muncul sebagai strategi pemasaran dan diferensiasi produk. Beberapa pengamat properti mencatat bahwa unit hunian yang dikomunikasikan selaras dengan prinsip ini dapat terjual lebih cepat dibandingkan produk serupa yang tidak menonjolkan aspek ini. 

Pemberitaan di media pun menampilkan contoh rumah yang berhasil terjual di atas harga penawaran setelah penataan ruang dan kebersihan diperbaiki mengikuti prinsip fengshui dasar. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi kenyamanan dan rasa cocok sering kali sama pentingnya dengan faktor lokasi dan harga

Bagi pemilik rumah maupun investor, pendekatan ini dapat dipandang sebagai panduan tambahan selama tidak mengabaikan pertimbangan rasional seperti legalitas, kualitas bangunan, dan potensi kenaikan nilai. Dalam konteks manajemen properti, pengelola dapat mengadopsi elemen-elemen fengshui yang relevan seperti pencahayaan, kebersihan, dan tata letak lobby sebagai bagian dari strategi meningkatkan pengalaman penghuni dan daya tarik aset.

Pada akhirnya, pemasaran properti di Indonesia merefleksikan teori pasar yang dikombinasikan dengan kepercayaan/budaya, psikologi konsumen, dan dinamika pasar. Di tengah persaingan yang ketat, pemahaman terhadap preferensi ini dapat membantu pelaku industri merancang hunian yang bukan hanya fungsional, tetapi juga terasa selaras dengan nilai dan keyakinan penggunanya.

 

 

Penulis: Arief Fadhillah

Sumber: 

https://www.kompas.com/

https://www.detik.com/

https://www.cnbcindonesia.com/

https://www.indofengshui.com/

返回博客
©INFRAMAP - KNIGHTFRANK 2026