Pasar Residensial Bali Bergerak Positif, Apa Artinya bagi Properti?

星期五, 21 八月 2026

Memasuki kuartal II 2026, pasar properti residensial di Bali menunjukkan sinyal positif setelah sempat melambat pada awal tahun.

Berdasarkan hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia Provinsi Bali, tren kenaikan harga properti residensial di pasar primer kembali menguat, mencerminkan pemulihan permintaan sekaligus tantangan baru bagi konsumen dan developer.

Data Bank Indonesia mencatat Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) Bali pada kuartal II 2026 tumbuh sebesar 1,02% secara tahunan (yoy), lebih tinggi dibandingkan kuartal I 2026 yang hanya tumbuh 0,87% (yoy).

Percepatan ini berbeda dari tren nasional yang justru melambat, di mana IHPR pasar primer Indonesia pada kuartal I 2026 tercatat tumbuh terbatas sebesar 0,62% (yoy), turun dari 0,83% (yoy) pada kuartal IV 2025.

Kenaikan harga rumah di Bali terutama didorong oleh segmen properti menengah, dengan luas bangunan 36 meter persegi sampai dengan 70 meter persegi, yang tumbuh 1,52% (yoy), disusul segmen properti besar di atas 70 meter persegi yang naik 0,82% (yoy).

Sebanyak 81,3% responden survei menyebut kenaikan biaya bahan bangunan sebagai pemicu utama, sementara 46,9% menunjuk kenaikan upah tenaga kerja.

Dari sisi pembiayaan pembangunan, dana internal developer masih menjadi sumber utama dengan porsi 56,6%, diikuti oleh pinjaman bank 35,3%, dana nasabah 5,9%, dan pinjaman lembaga keuangan bukan bank sebesar 2,2%.

Sementara itu, skema Kredit Pemilikan Rumah atau KPR masih mendominasi cara pembayaran konsumen dengan porsi 67,6% dari total pembelian rumah, menegaskan posisi KPR sebagai jalur pembiayaan utama pasar residensial Bali.

Meski tren harga bergerak positif, developer di Bali tetap menghadapi sejumlah tantangan seperti tingginya suku bunga KPR, keterbatasan ketersediaan lahan, beban pajak, dan besarnya uang muka pembelian rumah. Faktor-faktor ini berpotensi menahan laju penjualan meskipun harga terus naik.

Ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali memproyeksikan harga properti residensial masih akan melanjutkan tren kenaikan pada kuartal III 2026, baik pada harga tanah maupun harga bangunan rumah, untuk transaksi tunai maupun KPR.

Penguatan pada segmen menengah ini juga sejalan dengan pola yang terlihat secara nasional, di mana segmen tersebut menjadi penopang utama permintaan properti residensial di tengah pelemahan daya beli kelompok pengeluaran rendah.

Bagi calon pembeli maupun investor, pergerakan positif IHPR Bali menjadi sinyal bahwa nilai properti di pulau ini masih memiliki ruang untuk tumbuh, terutama pada segmen menengah dan besar. Namun, tantangan pembiayaan dan keterbatasan lahan tetap perlu dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan investasi properti di Bali.

 

Penulis : Roki Abdillah

Sumber :

https://kfmap.asia/blog/kelas-menengah-di-q1-2026-masih-menopang-properti-residensial-indonesia/4992

https://www.bisnis.com/

https://www.bi.go.id/

https://www.detik.com/

https://rri.co.id/

返回博客
©INFRAMAP - KNIGHTFRANK 2026