Upaya mengurai kepadatan di jalur penyeberangan Jawa-Bali terus menjadi perhatian serius pemerintah. Selama ini, lintasan utama melalui Pelabuhan Gilimanuk dan Pelabuhan Ketapang kerap mengalami lonjakan kendaraan, terutama saat musim libur panjang seperti Natal, Tahun Baru, dan Lebaran. Kondisi ini mendorong perlunya strategi baru yang tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga berkelanjutan.
Peningkatan mobilitas ini sejalan dengan tingginya kunjungan wisatawan ke Bali. Sepanjang tahun 2025, jumlah wisatawan mancanegara mencapai sekitar 7,05 juta orang, meningkat sekitar 750 ribu dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 6,3 juta kunjungan. Kenaikan ini berdampak langsung pada intensitas pergerakan, baik melalui jalur darat maupun penyeberangan antar pulau.
Merespons kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Bali bersama Kementerian Perhubungan mulai merancang pembangunan pelabuhan alternatif sebagai upaya mendistribusikan arus kendaraan dan logistik. Langkah ini diambil untuk mengurangi ketergantungan pada satu jalur penyeberangan yang selama ini menjadi titik kepadatan utama mobilitas antara Jawa dan Bali.
Dalam usulan yang disampaikan pada rapat kerja dengan Komisi V DPR RI, direncanakan pembangunan empat pelabuhan baru yang difokuskan untuk mendukung distribusi logistik. Keempat lokasi tersebut meliputi Pelabuhan Celukan Bawang, Pelabuhan Sangsit, Pelabuhan Amed, serta Pelabuhan Gunaksa. Dengan adanya pelabuhan-pelabuhan ini, diharapkan kendaraan logistik seperti truk tidak lagi harus melalui Gilimanuk, sehingga tekanan pada jalur utama dapat berkurang secara signifikan.
Selain pembangunan infrastruktur baru, peningkatan kapasitas angkut kapal juga menjadi bagian penting dari strategi ini. Direktorat Jenderal Perhubungan Darat berkoordinasi dengan operator penyeberangan untuk menghadirkan kapal berkapasitas lebih besar. Langkah ini bertujuan mempercepat proses bongkar muat kendaraan sekaligus mempersingkat waktu antrian yang selama ini menjadi keluhan utama pengguna jasa penyeberangan.
Permasalahan kepadatan tidak hanya dipicu oleh distribusi logistik, tetapi juga oleh perubahan pola perjalanan wisatawan. Saat ini, semakin banyak wisatawan yang memilih menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan transportasi umum, sehingga volume kendaraan meningkat drastis, terutama pada periode liburan.
Tren ini juga tercermin dari meningkatnya kunjungan melalui jalur laut. Sepanjang 2025, jumlah wisatawan mancanegara yang masuk melalui pintu laut mencapai 41.169 kunjungan, meningkat 65,88% dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebanyak 24.819 kunjungan. Hal ini menunjukkan bahwa peran pelabuhan tidak hanya sebagai jalur logistik, tetapi juga sebagai pintu masuk wisatawan.
Secara keseluruhan, strategi pengembangan pelabuhan alternatif dan peningkatan layanan penyeberangan diharapkan mampu menciptakan distribusi arus pergerakan yang lebih seimbang. Sehingga simpul transportasi di Bali dapat berfungsi optimal dan mendukung pertumbuhan ekonomi serta pariwisata berkelanjutan.
Penulis: Farah Septiawardahni
Sumber:
https://www.antaranews.com/
https://bali.antaranews.com/
https://www.suarasurabaya.net/
https://www.balipost.com/