Parcel locker atau loker penyimpanan yang umumnya disediakan oleh jasa logistik, semakin menjamur seiring dengan pesatnya pertumbuhan sektor e-commerce. Di Jabodetabek, salah satu penyedia jasa logistik lokal tercatat memiliki lebih dari 260 titik lokasi parcel locker dengan kecenderungan berada di kawasan simpul transportasi, seperti di sekitar Stasiun MRT Lebak Bulus dan Dukuh Atas, serta kawasan Central Business District (CBD) seperti di Sudirman.
Meskipun kehadiran parcel locker saat ini masih seputar ruang penyimpanan barang sementara, fungsi sebenarnya adalah menjadi titik akhir pengiriman untuk memangkas biaya last-mile delivery. Dengan sistem konsolidasi, kurir tidak perlu lagi mengantar paket ke setiap unit hunian atau kantor, melainkan cukup ke satu titik terpusat. Pendekatan ini relevan mengingat logistik tahap last mile dapat menyumbang sekitar 53% dari total biaya logistik, sekaligus menjadi tahap paling kompleks dalam proses distribusi.
Secara operasional, penggunaan parcel locker memang menunjukkan potensi efisiensi, seperti pengurangan biaya hingga sekitar 50% dan waktu layanan di dalam gedung yang bisa turun lebih dari 50%. Namun, dalam konteks Indonesia, potensi efektivitas ini ternyata belum sepenuhnya tercapai.
Beberapa studi menunjukkan bahwa pemanfaatan parcel locker di Jabodetabek masih belum optimal, terutama dari sisi pengguna. Tingkat kepuasan pelanggan masih berada di bawah ekspektasi, menandakan adanya gap antara kebutuhan pengguna dan layanan yang ditawarkan.
Selain itu, dari perspektif lingkungan, penelitian dalam jurnal IOP menemukan bahwa home delivery justru 3-7 kali lebih efektif dibanding parcel locker dalam menekan eksternalitas seperti emisi CO₂.
Hal ini menunjukkan bahwa tanpa perencanaan yang matang, parcel locker tidak selalu menjadi solusi paling efisien. Salah satu penyebab utamanya adalah faktor lokasi dan perilaku pengguna. Jika loker tidak berada dalam jalur mobilitas harian, pengguna justru harus melakukan perjalanan tambahan untuk mengambil paket, sehingga mengurangi efisiensi sistem secara keseluruhan.
Dalam konteks properti, kondisi ini menjadi catatan penting. Meskipun parcel locker mulai diposisikan sebagai amenitas pembawa kemudahan dalam berbelanja dari e-commerce bagi pengguna di hunian vertikal dan kawasan CBD, tingkat efektivitas sangat bergantung pada integrasi dengan pola mobilitas dan kebutuhan pengguna. Tanpa itu, fasilitas ini berisiko menjadi sekadar pelengkap, bukan solusi strategis.
Pada akhirnya, parcel locker di Indonesia masih berada pada fase perkenalan menuju transisi. Konsep dan manfaat yang ditawarkan terkesan menjanjikan, namun realisasi di lapangan belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan konsumen. Optimalisasi lokasi, peningkatan adopsi pengguna, serta integrasi dengan inovasi logistik lain menjadi kunci agar potensinya dapat tercapai sepenuhnya dan berkelanjutan.
Penulis: Nareswari Dahayu
Sumber:
https://kfmap.asia/blog/keunggulan-dan-tantangan-last-mile-delivery/1700
https://kfmap.asia/blog/model-last-mile-delivery-sebagai-pembaruan-sistem-logistik/1696
https://www.parcelhive.com/
https://paxelbox.paxel.co/
https://www.undp.org/