Kualitas udara semakin menjadi perhatian dalam pengembangan kota yang berkelanjutan. Seiring meningkatnya urbanisasi, pertumbuhan kendaraan bermotor, dan aktivitas ekonomi, lingkungan hidup terpapar berbagai polutan. Pendekatan lingkungan hidup perlu diintegrasikan dalam penetapan kebijakan lingkungan perkotaan, agar mobilitas masyarakat tidak menjadi kendala dalam mencapai lingkungan perkotaan yang berkelanjutan.
Salah satu pendekatan yang mulai banyak diterapkan untuk mencapai lingkungan berkelanjutan adalah Kawasan Rendah Emisi atau Low Emission Zone (LEZ). Pada awalnya, konsep ini dikenal sebagai kebijakan untuk membatasi aktivitas kendaraan dengan emisi tinggi di kawasan tertentu. Namun, dalam perkembangannya, LEZ menjadi bagian dari strategi pembangunan kota yang terintegrasi melalui penguatan transportasi publik, tata guna lahan, efisiensi bangunan, pengelolaan sampah, hingga penyediaan ruang publik yang lebih nyaman.
Dari perspektif properti, perkembangan konsep tersebut menunjukkan bahwa kualitas lingkungan semakin menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan kawasan. Kawasan dengan transportasi publik yang terintegrasi, ruang publik yang nyaman, serta lingkungan yang tertata mendukung terciptanya lingkungan yang layak huni.
Jakarta menjadi salah satu kota yang mulai menyiapkan penerapan Kawasan Rendah Emisi melalui kolaborasi antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Breathe Cities. Blok M diusulkan sebagai kawasan percontohan karena memiliki konektivitas transportasi publik yang baik serta karakter kawasan campuran (mixed-use).
Berdasarkan analisis yang dilakukan Breathe Cities, implementasi skenario paling ambisius diproyeksikan dapat menurunkan konsentrasi PM2.5 lebih dari 14,3% di kawasan prioritas, dengan potensi manfaat kesehatan dan kesejahteraan mencapai sekitar Rp1,9 triliun per tahun.
Penerapan konsep serupa juga dapat ditemukan di berbagai kota dunia. London menjadi salah satu pelopor dalam pengembangan Low Emission Zone, sementara Warsaw mengembangkan zona transportasi bersih sebagai bagian dari upaya mengurangi polusi udara dan meningkatkan kesehatan masyarakat. Meskipun setiap kota memiliki karakteristik yang berbeda, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kualitas udara semakin dipandang sebagai bagian dari strategi pembangunan kota yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan kota tidak hanya akan diukur dari pertumbuhan fisik maupun aktivitas ekonominya. Kualitas lingkungan, kemudahan mobilitas, dan kenyamanan kawasan diperkirakan akan menjadi aspek yang semakin diperhatikan dalam membentuk daya saing kota. Dalam konteks tersebut, Kawasan Rendah Emisi menjadi salah satu contoh bagaimana kebijakan lingkungan dapat diintegrasikan dengan perencanaan kawasan untuk mendukung kota yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan.
Penulis: Alya Arifa
Sumber:
https://www.jakarta.go.id
https://lingkunganhidup.jakarta.go.id
https://breathecities.org/