Transformasi industri global menuju sektor high-tech atau teknologi tinggi membuka peluang bagi wilayah yang sudah memiliki fondasi industri manufaktur yang kuat. Di Indonesia, Jawa Barat sudah cukup matang pada posisinya sebagai pusat industri elektronik dan semikonduktor nasional. Pemerintah Provinsi Jawa Barat saat ini tengah menyusun strategi klasterisasi di berbagai wilayah untuk mendorong pengembangan industri tersebut.
Menurut Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Barat, Dedi Taufik, pendekatan tematik kewilayahan investasi bertujuan untuk membangun ekosistem industri teknologi tinggi yang saling terhubung dari proses produksi, perakitan, hingga distribusi. Strategi ini diharapkan mampu menarik investor yang kini cenderung memprioritaskan proyek bernilai tinggi seperti industri elektronik, semikonduktor, dan data center, ketimbang ekspansi industri konvensional seperti tekstil.
Beberapa wilayah dengan kegiatan industri eksisting yang masif seperti Bekasi, Purwakarta, Subang, dan Sukabumi diproyeksikan menjadi simpul pengembangan industri teknologi tinggi di Jawa Barat. Kapasitas sektor manufaktur Jawa Barat juga tercermin dari kontribusinya yang mencapai 40,41% terhadap struktur ekonomi daerah pada tahun 2025, menjadikannya sektor terbesar dalam perekonomian Jawa Barat. Ekosistem industri yang matang tersebut menjadi modal penting untuk menarik investasi teknologi bernilai tambah tinggi.
Dari sisi investasi, Jawa Barat juga menunjukkan performa kuat. Realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat sekitar US$9,186 miliar melalui 17.344 proyek, sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp149,840 triliun dari 106.096 proyek. Selain itu, tercatat sejumlah 566 pabrik industri sektor KBLI 26 (industri komputer, barang elektronik, dan optik) tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat, dengan konsentrasi terbanyak di Kabupaten Bekasi. Besarnya arus investasi ini menegaskan posisi Jawa Barat sebagai salah satu pusat manufaktur utama di Indonesia.
Dari perspektif properti industri, laporan Knight Frank Indonesia mencatat bahwa koridor industri di timur Jakarta, terutama Bekasi dan Karawang, masih mendominasi pasokan lahan dan menjadi pusat aktivitas manufaktur, menyumbang sekitar 65% dari total pasokan kawasan Greater Jakarta. Sementara itu, pengembangan kawasan baru mulai bergerak ke arah Purwakarta dan Subang, seiring dengan tren global yang mendorong pertumbuhan kebutuhan ruang manufaktur sebesar 15–20%.
Keunggulan geografis Jawa Barat juga semakin memperkuat daya tariknya. Kedekatan dengan Jakarta sebagai pusat bisnis nasional, konektivitas yang baik dengan wilayah lain di Indonesia, serta harga lahan industri yang lebih kompetitif dibandingkan dengan ibu kota menjadikan Jawa Barat ideal untuk pengembangan kegiatan industri berteknologi tinggi.
Dengan kombinasi ekosistem industri yang matang, strategi klasterisasi investasi, dan pasokan lahan yang terus berkembang, Jawa Barat berpotensi menjadi pusat industri elektronik dan teknologi tinggi di Indonesia, sekaligus memperkuat posisi negara dalam rantai pasok global.
Penulis : Nareswari Dahayu
Sumber :
https://kfmap.asia/research/industrial-market-overview-1h-2025/4369
https://jabar.tribunnews.com/
https://opendata.jabarprov.go.id/