Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menunjukkan peningkatan sejak Jumat, 4 September 2026. Gunung api aktif ini sempat mengalami erupsi secara terus-menerus selama 25 jam nonstop hingga Minggu, 6 September 2026, sebelum akhirnya kembali mencatatkan letusan susulan pada Selasa, 8 September 2026 pukul 05.34 WIB. Pada awalnya, dampak paparan abu halus hanya dirasakan oleh masyarakat di kawasan pesisir Banten dan Lampung selama kurun waktu dua hari, yaitu Jumat dan Sabtu.
Namun, dorongan angin kencang yang berhembus ke arah timur laut membawa gumpalan abu vulkanik hingga ketinggian 20.000 kaki melintasi Selat Sunda. Akibatnya, wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi mulai diguyur hujan abu sejak Minggu pagi dan mencapai puncaknya sepanjang hari Senin, 7 September 2026, yang ditandai dengan munculnya lapisan abu tipis di perumahan serta kendaraan warga. Memasuki Selasa pagi, intensitas hujan abu dilaporkan mulai mereda dan pergerakannya bergeser menjauh ke arah Samudra Hindia seiring berubahnya arah mata angin.
Abu vulkanik merupakan material tajam dari erupsi gunung api yang menyerupai debu halus dan mudah terbawa angin hingga wilayah yang jauh. Kehadirannya dapat menyelimuti rumah, kendaraan, dan jalan dalam waktu singkat, sehingga mengurangi jarak pandang dan masuk ke dalam ruangan melalui celah ventilasi.
Dampak abu vulkanik tidak cuma mengganggu mobilitas, tapi juga mengancam kesehatan pernapasan dan mata. Menkes Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat untuk tidak menyapu abu kering secara langsung agar partikel halusnya tidak melayang di udara dan terhirup. Selain risiko kesehatan, akumulasi abu basah di atap dapat memberatkan beban bangunan. Cara pembersihan yang tepat menjadi kunci untuk menghindari bahaya ini.
Membersihkan abu vulkanik membutuhkan cara yang berbeda dibandingkan dengan membersihkan debu biasa. Tujuan utamanya bukan hanya membuat lingkungan terlihat bersih, tetapi juga mencegah abu kembali beterbangan dan masuk ke saluran pernapasan. Berikut cara membersihkannya:
Berbeda dari debu pembakaran biasa, abu vulkanik terdiri dari material kaca dan batuan tajam yang dimuntahkan saat letusan gunung berapi. Karakternya yang keras dan tidak larut dalam air berisiko membahayakan kesehatan sekaligus merusak properti. Oleh sebab itu, penanganan yang tepat seperti memakai masker, membersihkan area rumah dengan benar, serta memantau arahan resmi dari lembaga yang kompeten menjadi sangat krusial untuk meminimalkan dampaknya.
Penulis : Miranti Paramita
Sumber :
https://www.bmkg.go.id/
https://www.detik.com/
https://www.viva.co.id/