Iklim Tak Stabil, Investasi Cold Storage Kian Menjanjikan

星期五, 24 七月 2026

Perubahan iklim semakin mempengaruhi ketahanan pangan global, termasuk di Indonesia. Cuaca ekstrem yang lebih sering meningkatkan risiko gagal panen dan mengganggu stabilitas pasokan pangan. 

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mencatat sekitar 733 juta orang di dunia masih mengalami kelaparan, sementara lebih dari separuh produksi pangan global berada di wilayah yang rentan terhadap kekeringan.

Di Indonesia, produksi beras juga menunjukkan dinamika yang berubah-ubah, diantaranya dipengaruhi oleh kondisi iklim. Setelah produksi sempat menurun pada tahun 2024 akibat fenomena El Niño, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras nasional pada tahun 2025 mencapai 34,69 juta ton, meningkat 4,07 juta ton atau 13,29% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut didorong oleh membaiknya produktivitas dan bertambahnya luas panen padi. Meski demikian, fluktuasi produksi dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa sektor pangan masih sangat dipengaruhi oleh variabilitas iklim.

Fluktuasi produksi akibat kondisi cuaca tersebut mendorong pemerintah memperkuat infrastruktur rantai dingin (cold chain) sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas pasokan pangan. Perhatian tidak lagi hanya tertuju pada peningkatan produksi, tetapi juga pada bagaimana hasil panen dapat disimpan dan didistribusikan dengan baik. 

Infrastruktur penyimpanan menjadi semakin penting untuk menjaga kualitas komoditas sekaligus mengurangi risiko kerugian akibat gangguan pasokan maupun distribusi. Bagi komoditas yang mudah rusak, seperti sayuran, buah, ikan, dan daging, fasilitas penyimpanan bersuhu terkendali menjadi salah satu komponen penting dalam rantai pasok pangan.

Perubahan produksi yang dipengaruhi oleh kondisi iklim tersebut mendorong pemerintah memperkuat infrastruktur rantai dingin (cold chain) sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas pasokan pangan. Melalui Badan Pangan Nasional (NFA), pembangunan cold storage hingga ke tingkat desa terus didorong untuk menjaga kualitas komoditas, mengurangi kerugian akibat kelebihan maupun kekurangan pasokan, serta membantu menstabilkan harga pangan. Penempatannya juga diarahkan berada di dekat sentra produksi dan pusat distribusi agar dapat mendukung cadangan pangan secara lebih efektif.

Penguatan infrastruktur tersebut turut membuka peluang bagi sektor properti industri. Gudang kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai ruang penyimpanan, tetapi berkembang menjadi fasilitas logistik dengan sistem pengendalian suhu untuk mendukung rantai pasok pangan. Sejalan dengan tren tersebut, nilai pasar cold chain logistics di Indonesia diproyeksikan meningkat dari sekitar USD 7,19 miliar pada 2025 menjadi USD 9,24 miliar pada 2031, dengan segmen refrigerated storage sebagai kontributor terbesar. Proyeksi ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan terhadap fasilitas penyimpanan modern yang mampu menjaga kualitas komoditas hingga ke pasar maupun tujuan ekspor.

Bagi pelaku industri properti, perkembangan ini menunjukkan bahwa investasi pada gudang dan cold storage tidak hanya didorong oleh pertumbuhan sektor logistik, tetapi juga oleh kebutuhan untuk membangun rantai pasok pangan yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim. Perencanaan lokasi yang terintegrasi dengan sentra produksi, jaringan distribusi, serta pusat konsumsi akan menjadi faktor penting dalam pengembangan properti industri. Dengan demikian, perubahan iklim tidak hanya menjadi tantangan bagi sektor pertanian, tetapi juga peluang dalam mendorong berkembangnya kebutuhan akan aset logistik yang semakin strategis.

 

Penulis: Alya Arifa 

Sumber:

https://www.bps.go.id/id

https://www.pertanian.go.id

https://badanpangan.go.id

https://www.propertylounge.id

https://www.kompas.id

返回博客
©INFRAMAP - KNIGHTFRANK 2026