Masifnya pembangunan di perkotaan berkontribusi pada perubahan kondisi lingkungan hidup, termasuk pada sistem perairan di sungai. Pembangunan perumahan, alih fungsi lahan, dan meningkatnya aktivitas manusia mempengaruhi fungsi dan kualitas air sungai, sehingga organisme yang hidup turut terdampak. Akibatnya, jumlah spesies lokal yang hidup di sungai mengalami penurunan, sementara spesies yang lebih adaptif, seperti ikan invasif cenderung meningkat.
Ikan invasif merupakan jenis ikan yang bukan berasal dari suatu wilayah atau bukan spesies asli, tetapi masuk dan berkembang dengan cepat hingga mengganggu keseimbangan ekosistem lokal. Salah satu contoh ikan invasif adalah ikan sapu-sapu atau suckermouth catfish, yang berasal dari Amerika Selatan dan awalnya masuk sebagai ikan hias. Ikan tersebut kemudian dilepas ke perairan tawar, baik sengaja maupun tidak, sehingga berkembang juga di perairan sungai pada wilayah-wilayah perkotaan di Indonesia.
Ikan sapu-sapu memiliki kemampuan bertahan yang sangat tinggi, termasuk di air yang tercemar dan rendah oksigen. Karena kemampuan ini, ikan sapu-sapu dapat berkembang lebih cepat dibandingkan ikan lokal dan akhirnya mendominasi di banyak sungai perkotaan, termasuk di Jakarta.
Para peneliti di Kelompok Riset Produktivitas Ekosistem Perairan Darat BRIN juga mencatat, setidaknya terdapat 18 spesies ikan invasif di Indonesia, sehingga masalah ini tidak hanya disebabkan oleh satu jenis ikan saja.
Air yang tercemar membuat banyak ikan lokal tidak mampu bertahan hidup, sementara ikan sapu-sapu tetap dapat hidup dan berkembang. Populasi ikan sapu-sapu yang terus meningkat juga berdampak pada infrastruktur perairan, karena kemampuannya dalam menggali dasar dan tepi sungai dapat mempercepat erosi serta melemahkan struktur tanggul. Selain itu, keberadaannya dalam jumlah besar berpotensi menyumbat saluran air dan sistem drainase, sehingga mengganggu aliran dan meningkatkan risiko banjir di kawasan perkotaan.
Berdasarkan buku berjudul “Yuk Mengenal Ikan Sapu-Sapu Sungai Ciliwung” oleh Dewi Elfidasari, Ikan sapu-sapu awalnya dipelihara di akuarium karena bentuknya unik serta kemampuannya membersihkan lumut, alga, dan sisa pakan. Namun, seiring waktu, ikan sapu-sapu beradaptasi dan mengalami perubahan pola makan yang tidak hanya memakan lumut, tetapi juga telur ikan lain. Perubahan ini menyebabkan banyak pemilik membuang ikan sapu-sapu ke perairan umum, seperti Sungai Ciliwung, yang menjadi awal penyebaran dan perkembangan populasi ikan ini di alam.
Merespon kondisi ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan penangkapan massal ikan sapu-sapu di berbagai wilayah. Pada 17 April 2026, sebanyak 68.880 ekor ikan sapu-sapu dengan total berat sekitar 6,98 ton berhasil ditangkap di lima wilayah Jakarta. Kegiatan ini dikoordinasikan oleh Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta sebagai bagian dari upaya pengendalian spesies ikan invasif di perairan perkotaan.
Selain upaya di lapangan, Haeru Rahayu selaku Dirjen Perikanan Budi Daya di Kementerian Kelautan dan Perikanan RI menyampaikan bahwa pemerintah sedang menyiapkan revisi Peraturan Menteri guna meningkatkan efektivitas pengendalian populasi ikan sapu-sapu sesuai kondisi aktual.
Secara keseluruhan, peningkatan populasi ikan sapu-sapu dapat dipicu oleh masuknya spesies non-lokal, pencemaran sungai, dan perubahan fungsi lahan. Ketiga faktor ini menciptakan kondisi yang mendukung perkembangan ikan invasif. Oleh sebab itu, penting untuk menjaga kualitas lingkungan perkotaan, dengan tidak mencemari sungai serta memastikan pembangunan tetap mempertimbangkan keseimbangan ekosistem alami.
Penulis : Ratih Putri Salsabila
Sumber :
https://www.kompas.com/
https://en.tempo.co/
https://news.detik.com/
https://m.beritajakarta.id/