Hidup dalam Satu Kawasan Terintegrasi: Mengapa Properti Mixed-Use Semakin Diminati?

星期五, 19 六月 2026

Mobilitas menjadi salah satu tantangan terbesar masyarakat perkotaan saat ini. Kemacetan, waktu tempuh yang panjang, dan tingginya biaya transportasi membuat masyarakat semakin mempertimbangkan faktor kenyamanan dan efisiensi dalam memilih tempat tinggal.

Data TomTom Traffic Index menunjukkan tingkat kemacetan Jakarta mencapai 59,8 persen. Rata-rata perjalanan sejauh 10 kilometer membutuhkan waktu 26 menit 19 detik. Pada rush hour, waktu tempuh bahkan dapat meningkat hingga 38 menit 43 detik. Masyarakat Jakarta juga diperkirakan kehilangan hingga 125 jam per tahun akibat kemacetan.

Dampaknya tidak hanya dirasakan dalam bentuk waktu perjalanan yang lebih panjang, tetapi juga biaya hidup yang semakin besar. Data komuter Jabodetabek menunjukkan sebagian komuter harus mengeluarkan biaya transportasi hingga sekitar Rp1,79 juta per bulan atau setara hampir sepertiga UMP DKI Jakarta. Pengeluaran tersebut tidak hanya berasal dari transportasi massal, tetapi juga biaya tambahan untuk mencapai stasiun atau halte terdekat.

Di sisi lain, ketergantungan terhadap transportasi publik terus meningkat. KAI Commuter mencatat volume pengguna Commuter Line Jabodetabek (atau KRL) mencapai 30,2 juta penumpang selama Januari 2026 atau meningkat 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Biaya dan waktu yang harus dikeluarkan setiap hari kini menjadi faktor yang semakin diperhatikan. Jika dahulu lokasi strategis sering diartikan sebagai kedekatan dengan pusat kota, kini semakin banyak konsumen yang mencari lingkungan yang mampu mengintegrasikan berbagai kebutuhan dalam satu kawasan, dengan pergerakan yang efisien.

Perubahan preferensi inilah yang mendorong meningkatnya minat terhadap pengembangan properti berbasis mixed-use atau kawasan terintegrasi. Konsep ini menggabungkan hunian, perkantoran, pusat perbelanjaan, fasilitas pendidikan, hingga ruang rekreasi dalam satu lingkungan yang saling terhubung.

Dengan konsep tersebut, masyarakat dapat melakukan berbagai kegiatan sehari-hari tanpa harus melakukan perjalanan jauh. Efisiensi waktu dan kemudahan akses menjadi nilai tambah yang semakin dicari oleh masyarakat urban.

Tren tersebut mulai tercermin pada berbagai pengembangan properti di Indonesia. Misalnya saja, beberapa kota satelit di sekitar Jakarta menyebut kawasan mixed-use mampu menciptakan lingkungan yang lebih efisien, hidup, dan saling terhubung sehingga mendukung keseimbangan antara kehidupan pribadi dan aktivitas kerja. Selain itu, kawasan seperti ini juga menciptakan ekosistem yang lebih dinamis bagi aktivitas ekonomi dan bisnis.

Pada akhirnya, konsumen tidak lagi hanya mencari tempat tinggal, tetapi juga kawasan terintegrasi yang dapat menghadirkan kualitas hidup yang lebih baik. Di tengah tantangan mobilitas perkotaan yang semakin kompleks, kawasan mixed-use menawarkan efisiensi waktu, kemudahan akses, dan kenyamanan yang semakin dibutuhkan masyarakat urban.

 

Penulis : Alya Arifa

Sumber :

https://kci.id

https://www.kompas.id

https://www.tomtom.com/traffic-index

https://wartaekonomi.co.id/

https://bsdcity-official.com/

返回博客
©INFRAMAP - KNIGHTFRANK 2026