Tahun ini, industri perhotelan ibu kota diprediksi bakal sangat sibuk dengan tingkat keterisian kamar atau okupansi ruang yang diperkirakan menyentuh angka 74 persen. Angka ini menunjukkan kenaikan sekitar 3 persen dari tahun sebelumnya, yang secara otomatis berdampak langsung pada tarif menginap. Jangan kaget jika saat memasuki puncak liburan nanti, harga kamar hotel melonjak hingga 60 persen dibandingkan tarif pada hari-hari biasa.
Lonjakan harga ini terjadi secara merata di berbagai kelas hotel. Bagi Anda yang mengincar kemewahan di hotel bintang lima, tarif per malamnya kini berada di kisaran Rp 2,3 juta hingga mencapai Rp 5,3 juta. Sementara itu, untuk pilihan yang lebih ekonomis seperti hotel bintang tiga, harga pasar saat ini sudah menyentuh angka Rp 1,3 juta hingga Rp 1,8 juta per malam. Menariknya, peminat hotel bintang empat justru diprediksi menjadi yang paling tinggi dengan tingkat okupansi mencapai 78,1 persen, disusul hotel bintang lima yang tetap kuat di angka 77 persen.
Meskipun antusiasme masyarakat sangat tinggi, industri perhotelan tetap harus waspada terhadap risiko pembatalan reservasi yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Biasanya, pembatalan ini dipicu oleh faktor luar seperti kondisi keamanan wilayah, cuaca, atau perubahan mendadak pada regulasi libur nasional.
Oleh karena itu, bagi masyarakat yang ingin memesan kamar, sangat disarankan untuk lebih teliti membaca kebijakan pembatalan dan memilih hotel yang menawarkan fleksibilitas agar rencana liburan tetap aman jika terjadi perubahan situasi.
Dari sisi pengelola, musim Nataru kali ini bukan sekedar ajang untuk menaikkan harga demi keuntungan semata. Banyak hotel kini lebih fokus membangun kepuasan jangka panjang dengan menawarkan paket menginap yang sudah termasuk makan malam spesial atau aktivitas tambahan yang menambah nilai pengalaman tamu. Dengan dukungan teknologi pemesanan yang lebih transparan dan layanan staf yang tetap terjaga kualitasnya meski sedang musim sibuk, hotel-hotel di Jakarta berusaha memastikan bahwa kenaikan harga yang dibayar tamu sebanding dengan kenyamanan yang mereka dapatkan.
Pada akhirnya, momen Nataru di Jakarta tetap menjadi motor penggerak ekonomi yang vital bagi sektor pariwisata. Dengan perencanaan yang matang, baik dari sisi pengelola maupun calon tamu, hiruk-pikuk pergantian tahun di ibu kota bisa dinikmati dengan maksimal. Meski harus mengeluarkan biaya lebih, berbagai layanan ekstra dan atmosfer perayaan yang disiapkan pihak hotel menjadikan pengalaman menginap di tengah kota tetap menjadi pilihan favorit bagi banyak keluarga.
Penulis : Arief Fadhillah
Sumber :
https://travel.kompas.com/
https://urbanvibes.id/
https://www.idntimes.com/
https://tirto.id/
https://www.bbc.com/
https://www.marketeers.com/
https://finance.detik.com/
https://phri.or.id/