Banjir Awal Tahun 2026 Ganggu Transportasi dan Permukiman di Jawa Tengah

星期五, 23 一月 2026

Musim hujan kembali datang pada awal tahun 2026, termasuk di beberapa daerah Jawa Tengah. Air merendam permukiman warga, menutup jalan, dan perjalanan kereta api jarak jauh yang ikut lumpuh. Aktivitas masyarakat jadi tersendat, rencana perjalanan terganggu, dan banyak orang terpaksa mencari alternatif transportasi lain.

Genangan banjir paling parah terjadi di wilayah Pekalongan, yang merendam jalur rel antara Stasiun Pekalongan dan Stasiun Sragi, sehingga kereta api tidak dapat melintas dengan aman. Sejumlah perjalanan kereta api mengalami keterlambatan hingga lebih dari 5 jam. Bahkan, beberapa perjalanan terpaksa dibatalkan karena kondisi rel yang tidak memungkinkan. PT KAI mencatat, selama periode libur panjang 16-18 Januari 2026, sebanyak hampir 339 ribu kursi kereta api berhasil terjual. Namun, banjir yang melanda Pekalongan membuat sekitar 18 ribu penumpang terpaksa membatalkan perjalanan dan mengajukan pengembalian tiket. 

Jalur rel utara Jawa Tengah memang jadi salah satu urat nadi transportasi di Pulau Jawa. Setiap harinya, jalur ini dilalui kereta jarak jauh, kereta ekonomi, hingga angkutan logistik. Saat banjir menutup jalan, efeknya langsung terasa ke mana-mana. Perjalanan antarkota terganggu, pengiriman barang terlambat, dan mobilitas masyarakat menurun drastis. 

Tak hanya Pekalongan, banjir juga meluas ke berbagai daerah lain. Di Jepara, hujan deras memicu banjir sekaligus tanah longsor. Efeknya menutup akses jalan, merusak fasilitas umum, dan menghancurkan rumah warga. Genangan air juga masuk ke kawasan permukiman dan jalan utama. Kondisi serupa terjadi di Kudus, Pati, Semarang, Pemalang, dan Kendal. Di wilayah-wilayah ini, banjir menyebabkan rumah terendam dan jalan tak bisa dilalui.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bergerak cepat untuk menangani dampak banjir. Selain mengevakuasi warga dari daerah rawan, kebutuhan dasar pengungsi juga dipastikan tetap terpenuhi. Dapur umum disiagakan, sementara layanan kesehatan diberikan bagi warga yang membutuhkan. Meski begitu, banjir yang datang berulang kali tetap meninggalkan persoalan jangka panjang.

Dalam beberapa tahun terakhir, banjir dan rob di Jawa Tengah sudah menyebabkan 29.851 rumah terendam pada tahun 2025, bahkan ratusan di antaranya mengalami kerusakan. Kondisi ini tentu berdampak pada sektor properti dan hunian. Rumah-rumah di wilayah rawan banjir menjadi lebih rentan, baik dari sisi kenyamanan maupun nilai aset. 

Banjir awal tahun 2026 ini kembali menunjukkan betapa pentingnya kesiapan infrastruktur. Tanpa penanganan yang lebih serius, mulai dari perbaikan drainase hingga perlindungan jalur rel dan kawasan permukiman, gangguan serupa berpotensi terus terjadi dan makin menghambat aktivitas masyarakat kedepannya.

 

 

Penulis: Farah Septiawardahni

Sumber:

https://www.detik.com/

https://jateng.jpnn.com/

https://www.liputan6.com/

返回博客
©INFRAMAP - KNIGHTFRANK 2026